IMPLEMENTASI IT BERBASIS WEB PADA INDUSTRI PARIWISATA

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan ± 18.110 pulau yang dimilikinya dengan garis pantai sepanjang 108.000 km. Negara Indonesia memiliki potensi alam, keanekaragaman flora dan fauna, peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, serta seni dan budaya yang semuanya itu merupakan sumber daya dan modal yang besar artinya bagi usaha pengembangan dan peningkatan kepariwisataan. Modal tersebut harus dimanfaatkan secara optimal melalui penyelenggaraan kepariwisataan yang secara umum bertujuan untuk meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat.[13]

Berdasarkan pemahaman diatas, maka pariwisata dipandang sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan pendapatan daerah. Apalagi pengoptimalan potensi ini di dasari bahwa pariwisata merupakan sektor yang lebih menekankan pada penyediaan jasa dengan mengoptimalkan potensi kawasan wisata. Berdasarkan data statistic[13], tercatat bahwa sektor pariwisata memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian nasional. Tahun 2002 target perolehan devisa sebesar US $ 5,8 M untuk 5,8 juta wisman, dan tahun 2003 US $ 6,3 M 6,9 juta wisman, sedangkan target 2004 US 7,5 M (Widibyo, 2000). Dengan potensi wisata yang dimiliki masih memungkinkan peluang peningkatan penerimaan negara dari sektor pariwisata.

Sebagai salah satu bagian yang menopang pendapatan negara, pariwisata Indonesia diberikan perhatian lebih untuk dioptimalkan dan dikembangkan. Setiap daerah berlomba lomba dan berupaya menggali potensi pariwsiata yang dimiliki guna menambah pendapatan asli daerah mereka. Pariwisata dipandang sebagai potensi yang besar untuk dikembangkan. Disisi lain, potensi pariwisata ini juga dapat menimbulkan dampak multiplier, yang mana dengan adanya peningkatkan kunjungan wisatawan maka akan membuka lapangan pekerjaan di daerah tersebut.

Dilain pihak, terkhusus untuk pengembangan pariwisata di ASEAN, Indoensia memiliki propspek pengembangan pariwisata yang sangat potensial, hal ini dapat terlihat dengan fasilitas pengembangan pariwisata yang cukup rendah dan minim, pariwisata Indonesia masih menempatkan diri sebagai negara yang dapat mengandalkan potensi pariwisata yang dimiliki.

Posisi ini jelas memberikan pemahaman kepada kita bahwa pariwisata Indonesia memiliki prospek yang sangat besar jikalau di kembangkan dengan baik. Melalui pembenahan sarana prasarana dan perkuatan partisipasi masyarakat, maka tidak mungkin sektor pariwisata di Indonesia menjadi salah satu sektor yang dapat di andalkan sama seperti Malaysia, Thailand dan Singapura.

Pariwisata jikalau dikelola secara optimal, maka akan dapat menambah pendapatan negara serta dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun persoalannya adalah bagaimana memperkenalkan potensi pariwisata yang dimiliki? Ini menjadi pertanyaan mendasar yang perlu mendapatkan perhatian dan pemikiran setiap pihak yang ingin mengembangkan pariwisata sebagai basis peningkatan pendapatan negara.

Ada berbagai alternatif dalam mengembangkan potensi pariwisata seperti : pembenahan dan renovasi kawasan wisata, menciptakan daerah tujuan wisata, melakukan promosi melalui media maupun brosur-brosur, serta masih banyak lagi alternatif yang dapat dilakukan guna menunjang pengembangan wisata.

Salah satu alternatif yang dikembangkan dan dipandang efektif adalah dengan melakukan promosi melalui Internet. Saat ini telah[15] berkembang promosi, pemasaran, dan penjualan produk pariwisata (atau dapat disebut sebagai E-Commerce di industri pariwisata) memanfaatkan teknologi informasi. Pariwisata berbasis teknologi informasi dikenal dengan sebutan E-Tourism (IT-enabled tourism). E-tourism dipandang sebagai salah satu cara yang sangat efektif didalam memperkenalkan pariwisata suatu daerah atau negara. Hal ini disebabkan karena teknologi informasi saat ini sudah dianggap merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Konsep e-tourism pada dasarnya merupakan konsep yang masih baru dan belum mendapatkan perhatian dari berbagai pihak yang bergerak dalam bidang pariwisata, terkhususnya di Indonesia. E tourism masih di lihat sebagai sesuatu hal yang masih perlu di kaji lebih jauh mengenai keberadaan. Meskipun dilain pihak dalam pengembangan pariwisata penekanan terhadap pemanfaatan Internet sudah tinggi, namun hal ini tidak dibarengi dengan aplikasi internet tersebut sebagai alat pengembangan pariwisata.

Dalam laporan ekonomi informasi (Untat, 2005), dinyatakan bahwa “in 2001, the E-commerce and development report (ECDR) analised e-commerce and tourism with a view to exploring how the tourism industry was starting to benefit from information technologies and the internet, as the effect on developing countries’ competitiveness in tourism market”. Paparan diatas memperlihatkan bahwa pariwisata dan bisnis berusaha meningkatkan manfaat teknologi informasi dan internet dengan melihat dampaknya terhadap negara berkembang melalui persaingan pasar pariwisata. Lebih jauh ECDR mencacat satu perubahan mendasar yang dibawa oleh e tourism telah mengangkat nilai pariwisata melalui peningkatan penerimaan dalam dunia pariwisata.

Lebih dari pada itu dalam perencanaan sistem manajemen tujuan organisasi, UNCTAD (2005), menyatakan bahwa di negara berkembang internet telah digunakan sebagai tawaran dalam pasar pariwisata. Dalam hal ini, pemanfaatan internet dalam pasar pariwisata dipakai sebagai landasan dalam pengambilan kebijakan strategis pariwisata, dan merupakan dasar perubahan/inovasi pariwisata yang lebih efektif. Hal ini terlihat dari pengembangan infrastruktur, human capacity, dan integrasi konsep e-businiss tingkat rendah oleh provider pariwisata lokal, pemerintah, dan DMOs, dengan menambah aturan utama dalam menumbuhkan paritisipasi dan pemasukan perusahaan pariwisata dalam pasar pariwisata global

Hendriksson[15], menyatakan bahwa ada empat karateristik utama jikalau kita ingin mengembangkan E – Tourism yaitu : 1) Produk Pariwisata; 2) dampak berantai yang ditimbulkan oleh industri pariwisata; 3) struktur industri pariwisata; dan yang ke 4 adalah ketersediaan infrastuktur teknologi comunikasi dan informasi. Lebih jauh Eriksson menyatakan, dalam mempersiapkan karateristik E Tourism, maka perlu dilakukan pembangunan untuk mencapai penyempurnaan market place elecronic seperti : 1) warisan sistem yang telah ada; 2) keberagaman informasi; 3) tidak ada standar global dalam penukaran data; 4) seamless interoperability.

Aplikasi internet dalam pariwisata pada dasarnya tercermin dalam suatu sistem distribusi pariwisata yang lebih mengarah pada tranformasi pengembangan industri pariwisata dari perantara tradisional ke arah perantara internet. Beberapa sistem akses pariwisata menggunakan jalur internet untuk tiket pesawat, penginapan, rental mobil, dan berbagai jasa pelayanan lainnya. Web memiliki peranan penting sebagai jembatan penghubung antara produsen pariwisata dan daerah potensi pariwisata, dalam memberikan pelayanan kepada produser pariwisata.

E-tourism yang dikembangkan di Indonesia pada saat ini belum menyentuh pada aspek yang paling utama yaitu memberikan informasi dan kepastian bagi wisatawan ketika mereka memilih untuk berkunjung ke daerah tujuan wisata. Jikalau di bandingkan dengan negara ASEAN lainnya seperti Thailand dan Singapura, dapat di katakan Indonesia sangat tertinggal untuk pengembangan e-tourism.

Theophilus Wellem[15] dalam makalahnya menyatakan bahwa “e-tourism di Indonesia adalah belum optimalnya pemasaran paket wisata karena informasi yang diberikan pada website pariwisata tidak bersifat interaktif dengan wisatawan yang membutuhkan informasi lengkap, juga belum terintegrasinya website-website pariwisata dengan sistem informasi komponen lain dalam industri pariwisata, seperti perusahaan penerbangan, pelayaran, asuransi, agen travel, hotel, dan pengelola obyek wisata sendiri.”

Pengembangan e-tourism di Indonesia masih bersifat spasial, belum menyentuh pada penyediaan informasi yang menyeluruh untuk berbagai kawasan serta pendukungnya di setiap daerah. Hal inilah yang menjadi kendala dan masalah dalam pengembangan pariwisata. Disisi lain para wisatawan, ketika memutuskan untuk memenuhi kebutuhannya akan pariwisata, lebih mengutamakan untuk memperoleh informasi yang komperhensif serta menyuluh mengenai daerah wisata.

Pada hakekatnya sektor pariwisata Indonesia berharap dapat menggaet kunjungan wisatawan mancanegara yang besar, disisi lain kedatangan wisatawan di Indonesia pada dasarnya tidak terlepas dari promosi yang dilakukan. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi internet merupakan langkah yang dipandang tepat untuk mendatangkan wisatawan mancanegara ke Indonesia.

Wisatawan kini tidak sabar menunggu informasi yang biasanya diberikan melalui biro jasa perjalanan ataupun organisasi lainnya. Mereka lebih senang mencari sendiri apa yang ada di benaknya sehingga mampu meyakinkan bahwa produk yang dipilihnya adalah yang terbaik. Pada saat perjalanan wisata dibeli pada umumnya hanyalah membeli informasi yang berada di komputer melalui reservation system nya. Yang dibeli oleh wisatawan hanyalah “hak” untuk suatu produk, jasa penerbangan ataupun hotel. Berdasarkan pemahaman diatas, maka kebutuhan untuk melakukan perjalanan wisata akan sangat mudah, tampa harus melalui birokrasi yang rumit dan sukar. Sehingga terlihat bahwa peranan internet melalui e-tourism sangat penting dan perlu untuk diperhatikan dalam pengembangan pariwisata.

Pada saat ini juga yang perlu diperhatikan adalah perkembangan teknologi yang amat pesat. Hal ini menyebabkan : 1) terjadinya pergeseran dari tiket manual ke tiket elekronik; 2) setiap individu dapat melakukan pemesanan tersediri, hal ini menyebabkan individu tersebut mendapatkan kepuasan dari pemesanan yang ia lakukan; 3) pemanfaaan teknologi internet yang semakin meluas dan sudah menjadi media informasi dan komunikasi. Dari uraian diatas dapat disimpulkan apabila kita ingin memajukan potensi industri pariwisata, sudah saatnya komponen sumber daya manusia yang terlibat didalamnya harus dikembangkan agar siap menjadi bagian dari industri pariwisata global.

Demikianlah resume yang buat mengenai transformasi industri pariwisata dari sistem konvensional ke arah sistem online. Demikian uraian dari saya. Semoga dapat memberi inspirasi bagi munculnya ide dan inovasi terbaru dalam pengembangan industri pariwisata.

Wassalamulaikum wr.wb

REFERENSI

  1. Syamsul A Syahdan, “Sistem Pakar untuk e-Concierge”,
  2. Gebyar Andyono, “Analisis Kebutuhan Sistem Informasi Dan Desain Sistem Pariwisata Untuk Kawasan Resort Hutan: Studi Kasus Wilayah Hutan Wanagama”, Yogyakarta, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 2007.
  3. Henny Khusniatiy, “Sistem Informasi Manajemen Perhotelan Dengan Aplikasi Visual Basic Studi Kasus Pada Puri Indrakila Hotel Dan Cottage Ungaran”, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang 2007.
  4. Ainur Rofiq, “Peningkatan Peran Infokom Dalam Mempromosikan Pariwisata Daerah (Tinjauan dari Aspek Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi)”, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang, 2006
  5. Siswanto, “Pariwisata Dan Pelestarian Warisan Budaya”, Balai Arkeologi Yogyakarta, 2007
  6. Summary Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Kabupaten Rembang, “Rencana Pengembangan Pariwisata Kabupaten Rembang”, 2007
  7. Deputi Bidang Otonomi Daerah dan Pengembangan Regional BAPPENAS, “Pengembangan Ekonomi Daerah Berbasis Kawasan Andalan: Membangun Model Pengelolaan dan Pengembangan Keterkaitan Program”, Direktorat Pengembangan Kawasan Khusus dan Tertinggal.
  8. Dodik Ariyanto, “Pengaruh Efektivitas Penggunaan Dan Kepercayaan Teknologi Sistem Informasi Terhadap Kinerja Individual”, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana.
  9. Purwani Wisantisari, “Penyajian Informasi Pariwisata Di Kabupaten Tegal Berbasis Sistem Informasi Geografis (Sig)”, Universitas Negeri Semarang, 2005
  10. “Teknologi Informasi di Perusahaan Jasa Travel Agent dan Pariwisata”, http://www.freewebs.com/papermti/TI%20&%20Travel%20Agent.doc
  11. Optimalisasi Potensi Agrowisata Melalui Sistem Informasi Berbasis Web Service Dalam rangka Peningkatan PAD, http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/ index/assoc/ HASHfbee.dir/doc
  12. S. Bekti Istiyanto, Komunikasi Pemasaran Dalam Economic Recovery Program Masyarakat Kawasan Objek Wisata Pangandaran Pasca Gempa Dan Tsunami 17 Juli 2006, http://sbektiistiyanto.files.wordpress.com/2008/02/jurnal-pangandaran.doc
  13. S. Bekti Istiyanto, “Implementasi Kebijakan Sektoral Dalam Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Dari Perspektif Penataan Ruang”, Dosen Tetap Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Unsoed dan Dosen Tidak Tetap PS Komunikasi Penyiaran Islam STAIN Purwokerto.
  14. Syamsul A Syahdan, “Implementasi Aplikasi Customer Relationship Management (CRM) pada Sistem Informasi Perhotelan”, http://dosen.amikom.ac.id/downloads/artikel/Implementasi%20Aplikasi%20Customer%20Relationship%20Management%20(CRM).pdf
  15. Theophilus Wellem, Semantic Web Sebagai Solusi Masalah Dalam E-Tourism Di Indonesia, Program Studi Sistem Informasi Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Kristen Satya Wacana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: